Menjalin Komunikasi Lebih Baik Bersama Anak

Menjalin Komunikasi Lebih Baik Bersama Anak. Soal komunikasi, kasih sayang, keinginan untuk mendengarkan suara hati anak, atau bentuk pendampingan lain untuk mengarahkan mereka, tentu kita pernah melakukannya. Bagi yang belum, tidak ada salahnya untuk mulai mencoba. Hanya saja, kadang muncul kesan berbeda dari mereka.

Misalnya, sambutan yang kita berikan kepada anak kita ketika ia pulang sekolah. Kadang akan mendapat tanggapan yang tak sepadan dengan niat awal kita. Coba kita perhatikan percakapan antara Ibu dan Anaknya berikut ini.

“Kamu sudah pulang, Nak?” sang Ibu bertanya. “Ya sudah pulang lah..” jawab si Anak ketus. “Hari ini, ngapain saja di sekolah?” susul Ibunya. “Nggak. Tidak ada. Sekolah bikin capek saja.” Jawabnya datar. Lalu Ibu bertanya menggoda, “makan camilan apa tadi?” “Lupa”, jawab si Anak sambil melenggang masuk ke kamarnya.

Pernahkah Anda mengalami situasi seperti ini? Coba bandingkan dengan kisah berikut, sama-sama menyambut anak pulang dari sekolah.

Mendengar ada langkah kaki yang tidak asing, Ibu buru-buru ke luar rumah dan menyambut anaknya yang baru saja pulang sekolah dengan penuh kelembutan, “Eh… anak Bunda yang shalih sudah pulang. Coba sini, hari ini adik pasti bermain dengan sangat menyenangkan.” Sang Anak pun menyahut dengan penuh suka-cita, “Benar, Bunda!. Aku dan Indra bermain bola, asyik sekali. Sangat Asyik lho, Bunda.”

Menjalin Komunikasi Lebih Baik Bersama Anak
Anak Bermain di Pantai bersama Ibunya (Sasint/Pixabay)

Ibunya menyambung, “Waah, hebat. Sayang bunda tidak ikut bermain.” “Tidak masalah, Bunda!. Lain kali, Bunda akan aku ajari!” sahut sang anak ceria.

Ada yang beda? Ya, tentu kita bisa merasakannya. Terjadinya perbedaan ini, tentu bukan hanya karena teknik berbicara yang berbeda, tetapi juga ada kaitannya dengan keakraban antara kita dengan anak-anak kita.

Menjalin Komunikasi Lebih Baik Bersama Anak — Berbicara dengan anak ada seninya. Diperlukan cara dan teknik tersendiri. Sebenarnya tidak terlalu sulit, asalkan kita mau menyelaminya dengan penuh kesabaran. Mau mencoba dan berusaha merubah peran kita.

Berperan menjadi seperti anak-anak. Masuk ke dalam dunia mereka. Membaur dengan mereka dan menggali apa yang mereka mau lalu mengarahkannya. Mengerti dan memahami taraf perkembangan anak sangatlah penting. Karena, jika kita selalu berbicara dengan kata-kata yang tidak bisa mereka pahami, maka bisa dipastikan komunikasi yang baik tidak akan terjalin.

Nah, cerita diatas hanyalah sebagai kisah singkat contoh komunikasi dengan anak. Selengkapnya, bisa dibaca pada buku “Menjadi Lebih Baik Agar Selalu Ditolong Allah“, karya Umar Hidayat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *